← All Guides
Parenting GlobalApril 10, 2026·7 min read

Pijat Bayi Sudah Ada Ribuan Tahun di Nusantara — Sains Baru Membuktikannya

Di Indonesia, pijat bayi sudah jadi tradisi turun-temurun. Yang baru adalah: ilmu pengetahuan modern akhirnya bisa menjelaskan mengapa nenek moyang kita benar.

S
by Sapi

Di banyak rumah di Indonesia, ini bukan pertanyaan. Bayi lahir, dipijat. Sudah selesai. Nenek sudah datang, atau dukun bayi sudah dipanggil, dan ritual itu dimulai dari hari-hari pertama kehidupan si kecil.

Pijat bayi bukan sekadar tradisi. Di Indonesia, ini adalah bagian dari sistem perawatan bayi yang sudah berjalan ratusan — bahkan ribuan — tahun. Setiap daerah punya caranya sendiri. Jawa punya teknik tersendiri. Sunda juga. Bali juga. Tapi intinya sama: sentuhan teratur, minyak, dan tangan seorang perempuan yang sudah tahu apa yang dilakukannya.

Yang baru bukan tradisinya. Yang baru adalah sains akhirnya ikut membuktikan.

Apa Kata Penelitian

Pada tahun 1980-an, psikolog perkembangan Tiffany Field dari University of Miami mulai meneliti efek sentuhan pada bayi prematur. Hasilnya mengejutkan: bayi prematur yang dipijat tiga kali sehari selama 15 menit mengalami kenaikan berat badan 47% lebih cepat dibanding bayi yang tidak dipijat. Rata-rata mereka bisa pulang dari rumah sakit enam hari lebih awal.

Penelitian ini kemudian direplikasi di banyak negara, termasuk di negara-negara Asia. Hasilnya konsisten.

Mekanismenya pun sudah dipahami. Sentuhan pada kulit mengaktifkan saraf vagus, yang kemudian merangsang produksi insulin dan faktor pertumbuhan IGF-1. Dengan kata lain, pijatan mengirimkan sinyal biologis kepada tubuh bayi: tumbuh. Ini bukan sekadar kenyamanan — ini pemicu pertumbuhan fisiologis yang nyata.

Dukun Bayi dan Ilmu yang Tak Pernah Hilang

Di Indonesia, ada sosok yang perannya sering tidak dihargai cukup dalam diskusi modern tentang kesehatan bayi: dukun bayi.

Bukan dalam pengertian yang kadang dipertentangkan dengan medis modern — tapi dalam pengertian yang sesungguhnya: perempuan berpengalaman yang membawa pengetahuan turun-temurun tentang cara memegang bayi, cara membaca respons tubuhnya, cara menyesuaikan tekanan tangan dengan usia dan kondisi si bayi.

Yang dukun bayi lakukan selama berabad-abad adalah memijat dengan konsistensi, dengan minyak yang tepat, dengan tekanan yang terukur dari pengalaman. Bukan karena mereka membaca jurnal ilmiah — tapi karena mereka melihat sendiri hasilnya, generasi demi generasi.

Sains modern baru bisa menjelaskan mengapa itu bekerja. Tapi bahwa itu bekerja, mereka sudah tahu sejak lama.

Manfaat yang Sudah Terbukti

Penelitian-penelitian setelah temuan awal Field memperluas gambarannya:

Tidur lebih nyenyak. Bayi yang dipijat secara rutin menunjukkan peningkatan produksi melatonin dan durasi tidur dalam yang lebih panjang. Untuk orang tua baru yang bergulat dengan pola tidur bayi, ini bukan hal kecil.

Stres berkurang. Kadar kortisol — hormon stres — secara terukur lebih rendah pada bayi yang rutin dipijat. Bayi baru lahir mengalami banyak tekanan sensoris dari dunia luar; pijatan membantu sistem saraf mereka merasa aman.

Perkembangan otak. Stimulasi taktil pada kulit terhubung langsung dengan perkembangan korteks somatosensori. Kulit adalah organ sensoris terbesar, dan input melalui sentuhan membentuk bagaimana otak mengorganisir dirinya di bulan-bulan pertama.

Ikatan orang tua dan bayi. Orang tua yang memijat bayinya sendiri menunjukkan peningkatan kadar oksitosin — hormon bonding. Manfaatnya bukan hanya untuk bayi.

Cara Melakukannya di Rumah

Tradisi lokal sudah menyimpan banyak kearifan soal ini. Tapi untuk yang ingin panduan praktis berdasarkan penelitian:

Kapan mulai: Setelah pusar bayi lepas, biasanya sekitar 2–3 minggu setelah lahir. Waktu terbaik adalah sebelum mandi, saat bayi dalam kondisi tenang dan tidak lapar.

Minyak: Minyak kelapa murni (yang sudah lama dipakai di Nusantara) terbukti aman dan efektif. Minyak telon juga umum digunakan. Hindari minyak dengan wewangian yang terlalu kuat untuk bayi di bawah 3 bulan.

Tekanan: Bukan sekadar mengelus — tekanan yang cukup sehingga kulit bergerak bersama telapak tangan. Tapi tetap lembut, bukan tekanan keras.

Gerakan: Kaki dan lengan dari pangkal ke ujung. Punggung dengan gerakan melingkar. Perut searah jarum jam (mengikuti arah pencernaan).

Durasi: 10–15 menit per sesi. Yang paling penting adalah konsistensi, bukan lamanya satu sesi.

Jika bayi menangis atau tampak tidak nyaman, hentikan dan coba lagi di lain waktu. Pijatan tidak boleh dipaksakan.

Nenek-nenek kita tahu ini. Dukun bayi di kampung tahu ini. Sekarang penelitian juga tahu ini.

Di keluarga kamu, siapa yang biasanya memijat bayi? Masih ada yang memanggil dukun bayi, atau sudah beralih ke cara lain?

Bagaimana artikel ini?